Selasa, 05 Agustus 2014

Pandangaan Terhadap ISIS

Tanpa pemikiran yang cemerlang dan hati yang terbebas dari hasud dan dengki, maka membedakan antara Negara dan Gerakan (Organisasi) adalah sulit apalagi ketika keduanya menggunakan nama yang sama.

Rabu, 16 Juli 2014

Dambaan Lelaki dan Wanita

Setiap lelaki tentu mendamba wanita sholihah yang taat pada Allah.
Setiap wanita tentu menginginkan lelaki Sholih yang mendambakan keridhoan Allah.
Lelaki dan Wanita yang saling mencinta karen Allah, tentulah keridhoan Allah ada pada mereka.
Mencintai karena Allah adalah menempatkan Cinta kepada Allah sebagai yang paling utama sebelum makhluk Nya.
Mencintai karena Allah adalah taat pada semua aturan Allah dalam mencinta
Mencintai karena Allah adalah menuntun dia kepada jalan menuju surga nya Allah
Mencintai karena Allah adalah meninggalkan maksiyat bersamanya karena Allah

Lelaki yang mencintai wanita karena Allah, dia akan menahan diri sampai pernikahan halalkan hubungan mereka
Wanita yang mencintai lelaki karena Allah, dia akan menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya.
Lelaki yang mencintai wanita karena Allah, dia akan memantaskan diri untuk menjadi imam agar dapat membimbingnya taat kepada Allah.
Wanita yang mencintai lelaki karena Allah, dia akan menutup dirinya dengan hijab, dia tidak akan mengumbar kecantikannya pada khalayak, karena kecantikannya hanyalah untuk suaminya kelak.

Sabtu, 28 Juni 2014

Harapan

Aku selalu mengharap pertolongan Allah, meski kusadari aku belumlah layak.
Hanya kepada Allah lah menyandarkan semua harapan, agar aku tak jatuh dalam jurang kekecewaan.

Sabtu, 14 Juni 2014

Demokrasi (vs) Pancasila

Aku sungguh merasa aneh kepada orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Pancasilais Sejati, tetapi justru malah menjadi pembela demokrasi.
Kenapa?
Karena DEMOKRASI justru MENGINJAK-INJAK nilai-nilai PANCASILA itu sendiri.
Karena Pancasila memiliki nilai "Ketuhanan Yang Maha Esa" sedangkan demokrasi Justru menihilkan Peran Tuhan dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Tuhan hanya ditempatkan di tempat-tempat ibadah saja.
Akibatnya, UU yang dihasilkan oleh Demokrasi telah mengizinkan kekayaan alam suatu negeri (baca: Indonesia) untuk di exploitasi oleh asing dan negara hanya menerima sangat sedikit dari itu, dan rakyat sebagai pemilik kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan hanya dijadikan penonton. Apakah yang seperti ini sesuai dengan nilai "Kemanusiaan Yang adil dan Beradab"?
Dengan Demokrasi, atas nama kebebasan, Timor-Timur dapat berlepas diri dari Indonesia. Apakah ini yang disebut dengan "Persatuan Indonesia"?
Teori Demokrasi menyatakan bahwa Kekuasaan di tangan (wakil) Rakyat. Fakta Demokrasi para wakil rakyat bukan bekerja untuk rakyat. Buktinya, terlalu banyak UU yang justru menyengsarakan rakyat, bukannya berpihak kepada rakyat. Sekali lagi, Demokrasi menginjak nilai pancasila.
Lagi-lagi, Demokrasi telah mengkomersialkan kesehatan , pendidikan, dsb. Yang seharusnya itu menjadi tanggung jawab negara untuk mensejahterakan rakyatnya, menjamin pendidikannya. Tapi Demokrasi telah menafikkan itu semua. Hanya orang-orang berduit yang layak menikmati pedidikan yang baik, Orang miskin dilarang sakit. Demokrasi lagi-lagi menginjak nilai "Keadilan sosial".

Jadi buat yang mengaku sebagai Seorang Pancasilais sejati, tapi masih mati-matian jadi pembela Demokrasi, Apa yang sebenarnya kalian harapkan dari Demokrasi?
Sekali lagi, saya sungguh merasa aneh ketika yang di Inginkan adalah kebaikan tetapi yang diamalkan justru sesuatu yang bertentangan dengan yang diharapkan.

#Renungan

Selasa, 03 Juni 2014

Seperti Itulah Dakwah

Memang seperti itu dawah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret... Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari…
Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu…
(Written in Page KH. Rahmat Abdullah)

Jumat, 30 Mei 2014

Untukmu yang Jauh Disana

Bersabarlah dalam penantian,
Simpanlah saja rindumu itu, sebagaimana aku pendam dalam-dalam rasa rinduku
Hingga kelak aku qabulkan, ijab yang diakadkan walimu,
Saat itu rindu tak lagi terlarang, pandangan telah dihalalkan
Semuanya 'kan indah dalam keridhoan Allah pencipta Alam.

Kamis, 20 Maret 2014

Interaksi

Interaksi antar pria dan wanita berpotensi menimbulkan hasrat seksual yang dapat menjurus pada hal-hal terlarang. Sementara dalam realitas perlu adanya tolong menolong antara pria dan wanita, demi tercapainya kemaslahatan hidup di masyarakat. Bagaimana mempertemukan kedua hal tersebut?

Rabu, 19 Maret 2014

Cerdas...!

Orang pintar belum tentu benar, Orang benar belum tentu pintar.
Orang Cerdas, memanfaatkan kepintarannya atas dasar Kebenararan.
Jadilah orang Cerdas.

Senin, 10 Maret 2014

Puisi Buya Hamka kepada M. Natsir


meskipun bersilang keris di leher
berkilat pedang di hadapan matamu
namun yang benar kau sebut juga benar

cita Muhammad biarlah lahir
bongkar apinya sampai bertemu
hidangkan di atas persada nusa"
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
lindungan Ilahi memberimu tenaga
suka dan duka kita hadapi"

suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
kemana lagi, Natsir kemana kita lagi"

ini berjuta kawan sepaham
hidup dan mati bersama-sama
untuk menuntut Ridha Ilahi

dan aku pun masukkan
dalam daftarmu.....!
puisi HAMKA pada M, Natsir seusai pidatonya pada Sidang Konstituante RI 1957

Selasa, 11 Februari 2014

Menilai Dari Penampilan Diri

Ini berkaitan dengan posting sebelumnya, tentang penampilan bukan tolok ukur penilaian kepribadian manusia, tapi salah satunya.

Sudah kita ketahui bersama bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sedang kepribadian diukur dari pola pikir dan pola sikap nya.

Bagaimana menilai penampilan sebagai tolok ukur kepribadian seseorang?

Saya ingin katakan, penampilan adalah salah suatu perbuatan hasil dari pemikiran

Ketika buruk penampilan seseorang, maka lihatlah, apakah itu sudah menjadi kebiasaan? lihat pula perbuatan lainnya yang merupakan produk dari pikiran. Jika memang buruk sikapnya, kebiasaan nya tercela, mungkin memang itulah adanya.
Ketika buruk penampilan seseorang, namun sikap nya adalah kebaikan, kebiasaan nya adalah melakukan hal yang manfaat, mungkin saja dia sedang alpha.

Ketika baik penampilan seseorang, maka lihatlah kebiasaan nya, jika sikapnya selaras, menunjang penampilannya, menebar kebaikan kepada sesama, meninggalkan hal yang sia-sia, sungguh dia adalah pribadi yang istimewa.
Ketika baik penampilan seseorang, namun sikapnya bertentangan dengan akhlaq mulia, suka melakukan perbuatan tercela, tidak meninggalkan yang sia-sia. Maka perlu kita do'akan bersama, Semoga penampilannya menjadi awal kebaikannya, semoga sikapnya seindah penampilannya, semoga pikirnya sesuai tuntunan agama, semoga Allah mudahkan hidayah baginya, Aamiin...

Senin, 10 Februari 2014

Guru yang Terbaik

Pengalaman adalah Guru yang terbaik.

Tapi, pengalaman itu apa...? Apakah untuk memahami bahwa mencuri itu tidak baik lantas kita mesti mencuri...? Padahal telah sampai kepada kita pengetahuan, bahwa mencuri itu terlarang.

Sekali-kali tidaklah demikian kawan,

Kita tidak perlu mengalami segala hal untuk menjadi orang yang berpengalaman. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, kan.

Pengalaman tentang kesalahan orang lain, jadikan pelajaran agar kelak tak pernah kita lakukan.
Pengalaman baik orang lain, jadikan penyemangat agar kita bisa lakukan yang lebih baik lagi.
Pengalaman buruk orang lain, jadikan acuan untuk kita hindarkan yang demikian.

Jika dari pengalaman orang lain saja kita bisa ambil pelajaran. Untuk apa kita lakukan keburukan?
Lakukanlah hanya kebaikan Niscaya kelak pengalaman terbaik kita, 'kan jadi pelajaran.

Minggu, 09 Februari 2014

Masa Depan Milik Kita

Sangat picik menilai seseorang hanya dari penampilan, sekalipun penampilan bisa dijadikan indikator penilaian.

Kualitas seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia bersikap dan bertindak, Bisa juga dilihat dari apa yang ia katakan ataupun tuliskan.

Sikap dan tindakan, serta Perkataan dan tulisan adalah buah dari pemikiran.

Orang baik hanya akan mengatakan yang baik-baik, hanya akan menuliskan yang baik-baik.

Untuk menjadi baik, perlu berkumpul dengan orang-orang baik, hanya mendengar dan membaca yang baik-baik.

Dengan siapa kita bergaul menentukan siapa kita, bergaul dengan orang baik maka kita dipaksa untuk menjadi baik, bergaul dengan orang tercela cepat atau lambat membuat kita hina.

Tidak mungkin sebuah teko akan mengalirkan susu jika ia diisi dengan kopi.
Begitupun pikiran manusia, tak mungkin menghasilkan kebaikan jika diisi dengan kemungkaran. Tak akan memberi manfaat manakala di isi dengan yang sia-sia.

Jangan terkesima melihat orang yang mulia, tapi pelajarilah apa yang sudah dia lakukan sebelumnya.

Jangan heran jika ada orang yang hina, coba tengoklah bagaimana masalalunya.

Jika sekarang kita bukan siapa-siapa, mungkin sebelumnya kita tidak melakukan apa-apa.

Tapi tenanglah, masa depan masih ada. Jika kau inginkan kebaikan padanya, mulailah sekarang dan jangan menunda. Penuhi pikiran hanya dengan kebaikan, bergaullah hanya dengan orang-orang baik, bicarakan hanya yang baik-baik, dengarkan hanya yang baik-baik, bacalah hanya yang baik-baik.

Simple kan.

Rabu, 05 Februari 2014

Kepribadian Islam

Orang yang berkepribadian Islam itu yang bagaimana sih...?
Apakah yang pake sarung, pake koko, pake sorban?
Bagi yang cewek, dia pakai kerudung, pake busana muslim?
Sebatas itukah?

Oh,,,,, no,,no,,no,,no,,, Tentu tidak, penampilan seperti itu tidah bisa dijadikan ukuran kalau seseorang itu sudah berkepribadian Islam.

Tapi orang dengan penampilan demikian dapat disebut secara mutlak berpenampilan Islami. Siapapun bisa menampakkan Penampilan Islami, karena itu memang hanya sebatas penampakkan lahiriah, penampilan fisik semata.

Saya tidak mengatakan bahwa penampilan semacam itu tidak baik, tapi yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa penampilan semacam itu jangan dijadikan tolok ukur apakah seseorang itu berkepribadian Islam atau tidak.

Lalu apa Tolok Ukurnya?

Pembentuk kepribadian itu ada 2 (dua) yaitu Pola Pikir dan Pola Sikap.
Jadi Orang dikatakan berkepribadian Islam apabila Pola Pikir dan Pola Sikapnya sudah sesuai dengan Islam.

Kalo penampilannya seperti yang disebutkan diatas?

Itu sebagian kecil dari tindakan, bukan merupakan keseluruhan dari pola sikap. Tapi berpenampilan Islami itu sudah benar, tinggal diintegrasikan dengan perbuatan-perbuatan yang lain agar terbentuk Pola Sikap Yang Islami, yakni yang sesuai dengan tuntunan Islam. Semua perbuatannya terikat dengan Syari'at Islam, Halal dan Haram menjadi standarnya bersikap terhadap suatu benda.

Bagaimana dengan Pola Pikirnya?

Pola pikirnya juga harus Islam, selain Pola Sikap yang Islam untuk dapat disebut ber-kepribadian Islam. Karena Pola Pikir merupakan faktor pembentuk kepribadian seseorang.

Islam harus menjadi Landasan berpikirnya, memandang apapun permasalahan dari sisi Syariat islam. Islam dijadikan satu-satunya kepemimpinan dalam berpikir. Bukan yang lain. Kalaupun ada pemikiran lain yang diadopsi, adalah untuk membandingkan dan membuktikan bahwa hanyalah Islam yang benar dan yang Haq.

Wallahu a'lam.
sebuah #Renungan bagi diri sendiri, dan kalian yang membutuhkan.
Silahkan dibagikan. :-)

Sumber gambar: agussiswoyo.net

Selasa, 04 Februari 2014

"Mungkin waktu yang akan menjawab"

"Mungkin waktu yang akan menjawab"
Menjawab apa? apa yang bisa kau perbuat dengan waktu? waktu terus berjalan, sementara kita terkadang terhenti.
Kita tidak bisa mengaturnya, tapi kita bisa menyesuaikan diri dengannya.
Jangan pernah berharap waktu akan kembali, tapi lakukanlah lebih banyak agar yang terlewat tak kita sesali.
Jangan pernah bermimpi bahwa waktu akan terhenti, tapi jangan pernah lewatkan dengan hal tak berarti.
Hidup ini sangat singkat teman, waktu itu terus berjalan, lalu bagaimana kita memanfaatkan?

#Renungan untuk diri sendiri, dan kalian yang merasa membutuhkan.