Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2014

Pancasila: Teks atau Nilai...?

Teks atau Nilai?

- Pancasila itu sudah sesuai dengan Islam, Pancasila itu mengadopsi Syari'at Islam.
- Benar...!, maka tidak berdosa mengamalkan Pancasila. Maka merupakan suatu kebaikan mengamalkan Pancasila, karena berarti kita telah mengamalkan SEBAGIAN Syariat Islam.
- Namun Islam harus dijalankan secara keseluruhan bukan sebagian, diamalkan secara kaaffaah tidak setengah-setengah.
- Maka dengan menerapkan dan mengamalkan syariat Islam, secara otomatis kita sudah menerapkan dan mengamalkan Pancasila. Dan dengan menerapkan serta mengamal Pancasila kitapun sudah menerapkan dan mengamalkan Islam sebagian, namun MENAFIKKAN sebagian yang lain.

Asumsi Islamophobia

ASUMSI: Jika Syari'at Islam diterapkan, maka akan membahayakan muslim di daerah-daerah dimana muslim menjadi minoritas.

FAKTA: Syariat Islam (saat ini) tidak diterapkan dan Umat Islam terdzolimi tidak ada yang membela. Muslimah di Bali, di Papua berhijab dilarang dan di diskriminasi kemudian kita dibungkam atas nama toleransi.

Obat, hanya akan menjadi obat jika dikonsumsi. Ia akan menjadi perantara kesembuhan jika dikonsumsi. Obat yang hanya dipajang di etalase, selamanya tidak pernah menjadi perentara kesembuhan bagi sakit seseorang.

Islam adalah Rahmat bagi Seluruh Alam, dan itu hanya akan terjadi jika diterapkan dan diamalkan.
Islam Rahmatan lil 'Alamin hanya ada dalam khayalan jika hanya dijadikan slogan, hanya kajian tanpa penerapan dan pengamalan.

Selasa, 05 Agustus 2014

Pandangaan Terhadap ISIS

Tanpa pemikiran yang cemerlang dan hati yang terbebas dari hasud dan dengki, maka membedakan antara Negara dan Gerakan (Organisasi) adalah sulit apalagi ketika keduanya menggunakan nama yang sama.

Sabtu, 14 Juni 2014

Demokrasi (vs) Pancasila

Aku sungguh merasa aneh kepada orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Pancasilais Sejati, tetapi justru malah menjadi pembela demokrasi.
Kenapa?
Karena DEMOKRASI justru MENGINJAK-INJAK nilai-nilai PANCASILA itu sendiri.
Karena Pancasila memiliki nilai "Ketuhanan Yang Maha Esa" sedangkan demokrasi Justru menihilkan Peran Tuhan dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Tuhan hanya ditempatkan di tempat-tempat ibadah saja.
Akibatnya, UU yang dihasilkan oleh Demokrasi telah mengizinkan kekayaan alam suatu negeri (baca: Indonesia) untuk di exploitasi oleh asing dan negara hanya menerima sangat sedikit dari itu, dan rakyat sebagai pemilik kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan hanya dijadikan penonton. Apakah yang seperti ini sesuai dengan nilai "Kemanusiaan Yang adil dan Beradab"?
Dengan Demokrasi, atas nama kebebasan, Timor-Timur dapat berlepas diri dari Indonesia. Apakah ini yang disebut dengan "Persatuan Indonesia"?
Teori Demokrasi menyatakan bahwa Kekuasaan di tangan (wakil) Rakyat. Fakta Demokrasi para wakil rakyat bukan bekerja untuk rakyat. Buktinya, terlalu banyak UU yang justru menyengsarakan rakyat, bukannya berpihak kepada rakyat. Sekali lagi, Demokrasi menginjak nilai pancasila.
Lagi-lagi, Demokrasi telah mengkomersialkan kesehatan , pendidikan, dsb. Yang seharusnya itu menjadi tanggung jawab negara untuk mensejahterakan rakyatnya, menjamin pendidikannya. Tapi Demokrasi telah menafikkan itu semua. Hanya orang-orang berduit yang layak menikmati pedidikan yang baik, Orang miskin dilarang sakit. Demokrasi lagi-lagi menginjak nilai "Keadilan sosial".

Jadi buat yang mengaku sebagai Seorang Pancasilais sejati, tapi masih mati-matian jadi pembela Demokrasi, Apa yang sebenarnya kalian harapkan dari Demokrasi?
Sekali lagi, saya sungguh merasa aneh ketika yang di Inginkan adalah kebaikan tetapi yang diamalkan justru sesuatu yang bertentangan dengan yang diharapkan.

#Renungan

Senin, 10 Maret 2014

Puisi Buya Hamka kepada M. Natsir


meskipun bersilang keris di leher
berkilat pedang di hadapan matamu
namun yang benar kau sebut juga benar

cita Muhammad biarlah lahir
bongkar apinya sampai bertemu
hidangkan di atas persada nusa"
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
lindungan Ilahi memberimu tenaga
suka dan duka kita hadapi"

suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
kemana lagi, Natsir kemana kita lagi"

ini berjuta kawan sepaham
hidup dan mati bersama-sama
untuk menuntut Ridha Ilahi

dan aku pun masukkan
dalam daftarmu.....!
puisi HAMKA pada M, Natsir seusai pidatonya pada Sidang Konstituante RI 1957